Facebook
RSS
Showing posts with label Taat. Show all posts
Showing posts with label Taat. Show all posts

Tiada Ketaatan Tanpa Pengorbanan

(Yesaya 50:4-9, Mazmur 31:9-16, Filipi 2:5-11, Markus 14:1-15:47)

Bagi Rasul Paulus, Yesus Kristus adalah pondasi, pusat, fokus yang memberi arti dan makna bagi hidupnya. Motivasi hidup rohani Paulus tidak lagi dijalani karena ketakutan akan tuntutan hukum-hukum agama belaka. Ketaatan model ini adalah ketaatan karena ketakutan. Ketaatan ini adalah ketaatan semu. Paulus tidak memilih itu. Melainkan, ketaatannya kepada Allah kini ialah karena anugerah kasih sayang Allah yang nyata dalam pribadi Yesus Kristus. Di dalam pribadi Yesus Kristus, Paulus melihat ketaatan yang benar dan sejati, yaitu ketaatan yang disertai dengan pengorbanan (Flp 2:5-11). Keyakinan ini sungguh memberi damai sejahtera tersendiri bagi hidupnya dan ia mendorong Gereja Filipi untuk memiliki ketaatan seperti Kristus itu, ketaatan yang karena didasari oleh cinta kasih, maka bersedia untuk berkorban, menderita demi kebaikan bersama.

Waktu itu, ada gejolak dalam kehidupan Gereja Filipi. Dari luar, mereka menghadapi aniaya dari orang-orang yang tidak menyukai keberadaan mereka. Dari dalam, ada beberapa orang anggota jemaat yang saling berseteru satu sama lain (Flp 4:2). Belum lagi guru-guru palsu yang membingungkan Gereja dengan ajarannya (Flp 3:2). Oleh sebab itu menjadi perlu, jemaat ini mengingat kembali “ketaatan yang berkorban”, yang telah ditunjukkan oleh Kristus, agar mereka dapat berdamai dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan orang lain. Nasihat yang Paulus berikan untuk Gereja Filipi ini bukanlah nasihat yang gampangan, karena suratnya ini ia tulis dari dalam rumah tahanan di Roma pada masa tahanannya karena memberitakan Injil Kristus. Paulus menyemangati jemaat dengan teladannya juga. Paulus telah menghidupi juga “ketaatan yang berkorban” itu.

Kadang di dalam menghadapi kesusahan, rasa malu dan penderitaan, seseorang biasanya bereaksi di “keempat penjuru mata angin” dirinya, demikian diungkap seorang psikolog. Di sisi utara, orang itu menyerang orang lain dengan kebencian dan balas dendam. Di sisi selatan, orang itu menyerang diri sendiri dengan mengambil tindakan-tindakan yang menyakiti dirinya sendiri. Di sisi barat, orang itu dapat menunjukkan kepada orang lain dengan keras segala egonya dan menolak segala kesusahan dan rasa malu. Di sisi timur, orang itu menarik diri dari komunitasnya dan merasa diri tidak berharga. Dalam Yesaya 50:4-9 kita menjumpai, hamba Allah tidak memilih reaksi-reaksi destruktif yang seperti itu. Saat menemui kesusahan, rasa malu dan penderitaan, Ia tidak menyerang balik atau balas dendam, atau menyakiti diri sendiri. Ia tidak menjauh dari komunitasnya, melainkan tetap tinggal di dalamnya. Demikianlah kita mendapati gambaran sosok hamba Allah itu juga dalam diri Yesus Kristus. Ketaatan-Nya adalah ketaatan yang bersedia untuk berkorban (Mrk 14:1-15:47).

Kristus yang telah menjadi teladan Paulus, kini menjadi teladan kita dalam hal ketaatan kepada Allah. Sebagai pengikut Kristus, kita juga dipanggil menjadi hamba-Nya. Menjadi hamba Tuhan yang taat dan bersedia berkorban memang tidak mudah. Tetapi kepada hamba-Nya yang taat, Allah selalu bersedia memberikan pertolongan yang meneguhkan hati (Yes 50:7,9). Di dalam keteguhan hati itu, hamba-Nya dimampukan untuk terus maju dalam pergumulan melawan kesusahan dalam ketaatan yang berkorban kepada Allah (Yes 50:8, Mrk 13:42). Untuk kita renungkan, seperti apa ketaatan kita kepada Allah akhir-akhir ini? Jika kita menemui kesusahan, rasa malu dan penderitaan dalam menjadi hamba-Nya, bagaimana tanggapan kita?
[ Read More ]

Taat dalam Persekutuan dengan Kristus

Pembacaan Injil Matius 4:1-11 menceritakan kisah tentang bagaimana sikap Tuhan Yesus yang memilih setia dan taat kepada Allah daripada kepada Iblis. Sikap Tuhan Yesus tersebut sangat berbeda dengan Adam sebagai manusia pertama. Adam lebih memilih untuk taat kepada Iblis, sehingga menyeret seluruh umat manusia kedalam kuasa dosa. Jika manusia pertama menyeret umat manusia kepada maut dan hukuman Allah, tidak demikian halnya dengan Tuhan Yesus, yang terbukti mampu bersikap taat kepada Allah saat Dia dicobai.

Kemenangan Tuhan Yesus di Padang Gurun tersebut membuktikan bahwa Dialah Mesias yang mampu membawa manusia kepada keselamatan dan Hidup yang kekal. Itu sebabnya Paulus mengatakan dalam Roma 5:17: Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.

Mengikut Yesus berarti kita bersedia meneladani Kristus yang senantiasa taat kepada kehendak Allah. Ketaatan kepada Allah hanya dimungkinkan jika kita memiliki hubungan personal yang baik dengan Allah. Semakin dalam kualitas persekutuan atau hubungan personal kita dengan Allah, maka kita akan semakin mampu melawan setiap godaan atau pencobaan yang datang dalam kehidupan kita. Dengan demikian kita akan menjadi seperti Kristus yang berhasil lolos dari jeratan Iblis.

Kiranya Tuhan menolong dan memampukan kita untuk memiliki ketaatan didalam persekutuan dengan Kristus.
[ Read More ]

Taat pada kehendak Bapa

Baca: Matius 26:36-46

Semakin dekat dengan waktunya, semakin tegang pula suasananya. Paling tidak itulah yang dirasakan Yesus. Sebagai Anak Manusia, Yesus merasa gentar, bahkan mungkin juga bimbang. Namun tekad-Nya tak surut untuk menaati kehendak Allah.

Agar misi Allah terwujud tuntas dalam diri-Nya, Yesus mengharapkan dukungan, baik dari Allah Bapa, Sumber kekuatan sejati, maupun dari para sahabat-Nya, yaitu para murid-Nya, berupa dukungan doa dan moral. Oleh sebab itu, Ia berdoa di Taman Getsemani dan membawa ketiga murid terdekat-Nya untuk mendampingi Dia berdoa. Sayang, daging para murid yang lemah (ayat 41) membuat mereka gagal untuk memberikan dukungan kepada Yesus yang sangat membutuhkan. Mereka hanya bisa tertidur lelap tanpa beban dan pergumulan seperti Yesus. Mereka bukan hanya gagal mendukung Yesus, tetapi juga sendiri gagal dalam mengantisipasi kedahsyatan peristiwa penangkapan Yesus.

Manusia boleh gagal memberikan dukungan, tetapi Allah tidak pernah gagal. Ketika kita datang berharap kepada Allah Bapa dengan segala pergumulan kita maka Ia yang mem-punyai rencana terindah dalam hidup akan memberikan jalan keluar kepada kita. Inilah yang Tuhan Yesus alami. Melalui persekutuan dengan Bapa dan ketaatan penuh kepada kehendak-Nya, Yesus sungguh mengerti isi hati dan kehendak Bapa-Nya secara pasti. Bahwa memang tidak ada jalan lain, selain jalan salib yang olehnya manusia mendapatkan penebusan dosa dan keselamatan. Yesus sungguh menda-patkan penghiburan dan kekuatan sehingga dapat menang atas pergumulan dan siap menghadapi jalan salib dengan mantap.

Bersyukur kepada Allah, Tuhan Yesus melepas kehendak diri-Nya demi ketaatan pada kehendak Bapa sehingga hari ini kita beroleh anugerah keselamatan. Maukah kita melepas ambisi dan keinginan pribadi kita agar karya keselamatan-Nya dialami pula oleh orang lain?
[ Read More ]